cahayaleny

Just another WordPress.com site

Contoh surat lamaran kerja calon dosen

Banda Aceh, 16 Januari 2014
Kepada yth:
Ka. Div. HRD Getsemulia Group
Di-
Tempat

Perihal : Lamaran kerja
Dengan Hormat,
Berdasarkan informasi dari media cetak mengenai lowongan pekerjaan tenaga dosen di Getsemulia Group. Melalui surat lamaran ini saya ingin mengajukan diri untuk bergabung sebagai tenaga calon dosen Prodi Pendidikan Matematika di tempat tersebut. Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama             :
Tempat/Tanggal Lahi  :
Jenis Kelamin          :
Pendidikan                 :
Alamat             :
CP             :

Untuk melengkapi beberapa data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu pimpinan diwaktu yang akan datang , saya lampirkan juga kelengkapan data diri sebagai berikut :
1.    Pas Photo 3×4 (2 lembar).
2.    Foto copy KTP.
3.    Daftar Riwayat Hidup.
4.    Foto copy Ijazah yang telah di legalisir.
5.    Foto copy Transkip nilai yang telah dilegalisir.
6.    Foto copy piagam penghargaan
Demikianlah Surat lamaran ini saya buat dengan sebenarnya dan atas perhatian serta kebijaksanaan Bapak/Ibu pimpinan saya mengucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Nama anda

Tinggalkan komentar »

Senandung Hati Buat Ibu

SENANDUNG HATI BUAT IBU

Goresan pena: Leny

 

 

Teng…teng..teng

Jam dinding berdentum memecah lamunanku

Ku lihat di di frame itu…

 gambar di kertas segi4 di dompet mungilku,

ku lihat seseorang yang sangat berharga dalam hidup

kaulah  IBU….

 

Tahukah kau Ibu,

di waktu dulu, dirimu selalu menemani setiap langkah,

menjawab setiap pertanyaan,

menentukan sebuah pilihan,

mengabulkan setiap keinginan,

ku selalu melihat setiap senyuman dari raut wajahmu.

Ku putar, dan terus kuterawang sudut2 imajinasi dan ingatanku

Berat rasanya hidup tanpa kehadiranmu disiku, Ibu…

Ku rindu sosok yang bersahaja,

Sosok peyemangat dalam hdupku….

Di saat harapanku putus,

Kaulah bidadari yang membuat harapan itu kembali bersemi…

Nak, teruslah berusaha …Ibu pasti mendoakanmu

Kata2 itu selalu terngiang dan membangkitkanku,

Menggapai semua impian, ketika aku larut dalam kelalaianku…

Aku akan selalu berbakti padamu Ibu…..

Semoga Allah seLalu menjaga mu,

Seperti dirimu yang selalu memperhatikan ku,

Di setiap jam, menit, dan detik…

 

Ya Allah….ya Rabbi

Jagalah selalu Ibuku…

Dan izinkan aku,,,, membuat ibu tersenyum dan bahagia memiliki diriku…

Love U mom…

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar »

Butir TasbiH Afifa

BUTIR TASBIH AFIFA

Oleh: Cahaya Leny El-Mellayuni

Pagi yang cerah, udara di pagi ini terasa mebelai insan-insan  yang masih terlelap di atas kasur empuknya. Kicauan burung laksana symphony syair-syair merdu para musisi. Mentari pagi seolah menyapa seluruh makhluk penghuni alam semesta. Indahnya panorama di kampung bak permadani yang terbentang menghiasi tiap ruas pandangan mata. Inilah anugrah dan kuasa Sang Pencipta yang patut untuk disyukuri.

“Assalamu’alaikum Umi, Ifa pergi dulu ya…(sambil menyalami tangan lembut Umi).”

Seperti biasa di awal bulan Ramadhan, Ifa mengikuti kegiatan “SANLAT” alias “Pesantren kilat” di sekolah. Ifa yang sekarang duduk di bangku kelas IX SMP itu sangat aktif di sekolahnya, terutama dalam kegiatan keagamaan. Tak heran, banyak teman yang menyayanginya. Ifa juga diamanahkan menjadi ketua keputrian ROHIS di SMP nya. Suatu kebanggaan Umi memiliki anak jenius plus sholeha seperti Ifa.

Hari-hari di pesantren kilat membuat hati Ifa terasa tentram dan damai. Tausiyah-tausiyah yang diberikan seolah menyihirnya menjadi pribadi yang lebih baik.

“Teng…teng…teng…”

Suara lonceng membahana menyelimuti sekolah tersebut menandakan jadwal telah berakhir dan akan dilanjutkan dengan hari esok. Ya tepat pukul 13.00. Sebelum pulang, para santri beramai-ramai pergi menuju mesjid kecil di sudut kanan halaman sekolah. Mesjid kecil dengan kubah yang indah. Ya walaupun kecil, mesjid itu seolah menjadi rumah kedua bagi Ifa disamping rumah sendiri. Usai shalat, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.

“Ifa, ntar malam teraweh bareng yuk,,Ntar sa jemput dech” Ajak Nisa

“Ehm…gimana ya? Boleh, boleh, InsyaAllah dengan senang hati Fa mau koq.” Jawab Ifa

“Ba’da Magrib Nisa ke rumah ya..”

“Ocey sobatku, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.

###

“Assalamu’alaikum…”Sapa Ifa ketika berada di depan pintu rumah.

“Wa’alaikum Salam, anak Umi udah pulang, gimana di sekolah nak?” Tanya Umi yang sedang menjahit pakaian yang  telah robek

“Alhamdulillah Ifa mendapat banyak tambahan ilmu di sanlat Umi…” dengan wajah yang ceria dan senyumannya yang merekah Ifa menjawab pertanyaan Umi

“Kalau Ifa ikhlas, bukan hanya tambahan ilmu yang Ifa dapat, tapi juga Ridha Allah” tambah Umi dengan senyum simpul di raut wajahnya

“Makasih ya Umi, moga aja bisa nabung yang banyak di bulan yang mulia ini, biar Ifa bisa memetik hasilnya di akhirat kelak, do’ain ya Umi”

“InsyaAllah do’a Umi akan selalu menyertaimu nak..”

“Umi, Ifa boleh ngomong sesuatu ke Umi ga?” Tanya Ifa sambil memegang kedua tangan Umi nya.

Dengan rasa penasarannya Umi pun akhirnya menjawab” …tentu saja fa,,emangnya Ifa mau ngomong apa sama Umi?”

Dengan merangkul tubuh Umi, Ifa pun menjawab “Umi, Ifa sayang sama Umi…Ifa gak mau kehilangan Umi…”

“Ifa anakku, Umi tahu itu, Umi juga sangat saying kepdamu, tetapi satu hal yang perlu kamu tahu, utamakanlah Cintamu kepada Sang Pencipta. Karena Allah lah di atas segala-galanya” jelas Umi

“Ten..tu Umi, Ifa menyayangi Umi karena Allah”

“Makasih nak, Umi bangga punya anak yang berbakti seperti kamu.”

###

Sore hari adalah waktu yang ditunggu-tunggu anggota keluarga. Karena apa? Karena memasak bareng Umi adalah hal yang sangat menyenangkan buat Ifa, meracik masakan special buat adik kembarnya Nazwa dan Nazla. Di dalam keluarganya, mereka hanya tinggal ber-4. Ayah Ifa meninggal sewaktu Ifa duduk di bangku kelas 6 SD. Meskipun begitu, mereka tetap senang dan rukun dengan keluarga Sakinah.

Ini adalah nikmat yang terindah yang patut untuk disyukuri.

###

Angin malam ini berhembus menusuk tulang belulang. Cuaca malam seolah memberi isyarat penuh makna.

Di malam Jumat itu Ifa bersama temannya Nisa pergi melaksanakan shalat magrib, Isya, dan teraweh di mesjid yang tak jauh dari rumahnya. Tausiah yang diberikan sang ustad memberikan arti yang mendalam buat Ifa. Di dalam sujudnya, Ifa larut dalam kekhusyukan merendahkan diri kepada-Nya. Tanpa terasa, tetes air bening pun membasahi pipi mulusnya. Satu harapannya adalah dapat melihat dan membahagiakan keluarga khususnya Umi sebelum ia menutup mata.

###

Angin malam ini berhembus menusuk tulang belulang. Gelapnya langit di malam hari seolah memberikan sebuah isyarat kecil yang penuh arti kepada seorang penghuni alam semesta ini.

###

Jam 03.00 Pagi

Ifa beranjak bangun dan memasuki kamar Uminya “Umi, bangun , tahajud yukk…”  Ajak Ifa pada Umi dengan suara yang agak parau berhubung baru bangun

“Yuk fa, makasih udah membangunkan Umi,,”

Ibu dan anak ini pun bernjak ke kamar mandi untuk berwudu. Butir-butir air membasahi anggota, yang nantinya bakal menjadi saksi-saksi kunci ibadah mereka di hari kebangkitan.

Di keheningan malam itu, ketika semua masih terlelap dalam mimpi-mimpi yang indah, Ifa dan uminya larut bermunajat kepada Allah sang pencipta alam semesta. Selesai tahajud, Ifa pun larut dalam zikir dan tasbih yang keluar dari lisannya.

Setelah beberapa lama bermunajat di atas sajadah sucinya, Ifa melihat Uminya masih dalam keadaan sujud di atas sajadah birunya. Ada perasaan yang mengganjal di dalam hati Ifa. Tatapan matanya mengarah pada jam dinding di atas foto keluarga di kamarnya.

“Satu jam telah berlalu, selama ini Umi tidak pernah sujud selama itu…” bisiknya dalam hati kecilnya. Ifa mengusir pikiran  buruk yang berlalu lalang di dalam halusinasinya. “Ya Allah, tolong jaga Umi ya Allah,,” Hati kecilnya mulai berbicara kembali. Setengah jam lagi Ifa berharap ibu menyelesaikan tahajunya untuk makan sahur bersama, karena waktu imsak pun telah dekat.

“Umi dah selesai shalat???”  Ifa memberanikan diri bertanya pada umi nya yang masih sujud. Entah apa yang dipikirkannya. Satu celah kecil di sanubarinya memberikan firasat yang tidak baik. “Astaghfirullah…Ya Allah, tenangkan pikiran hambamu ini…”

Akhirnya waktu imsak pun tiba, dengan tangan yang gemetar, Ifa memberanikan diri untuk membangunkan Umi, “Mungkin Umi tertidur dalam shalat” pikirnya

“Umi….Umi…bangun..shalat shubuh jamaah yuk mi, Umi yang jadi Imamnya ya..” panggil Ifa sambil mengelus punggung Umi dengan lembut. Tapi, tak ada respon dari Umi. Akhirnya Ifa pun mendudukkan Umi. Tapi aneh, tubuh Umi terasa kaku. Dengan gemetar Ifa merasakan bahwa denyut nadi Umi telah terhenti…dilihatnya Umi telah tidak bernyawa. Tapi raut senyuman terlihat dari wajahnya yang sudah mulai keriput.

“Innalillahi Wa inna Ilaihi Raji’un, ya Allah, tempatkanlah Umi di Jannahmu ya Allah..” dengan suara yang terbata bata Ifa  memohon kepada Illahi…

“mbak,,Umi kenapa, sakit ya???” Tanya si kembar serempak seraya menggosok-gosok matanya karena baru terjaga dari tidurnya

“…..”

“Kok ga dijawab mbak, mbak kok nangis???” Tanya nazla dengan penasarannya

“Ehm…Umi telah meninggalkan kita dik…” sambil memeluk tubuh mungil kedua adiknya

Sambil melihat wajah Umi yang telah tertidur pulas, tidur untuk selamanya. “Umi…”Tiba-tiba air mata mereka tumpah seakan tak terbendung lagi

Walaupun Ifa sangat sedih kehilangan uminya, tetapi ia berusaha untuk tegar “Dik, jangan nangis ya…InsyaAllah ibu akan bahagia, kalian masih punya mbak koq, dan ada Allah yang selalu melindungi kita,,laa tahzan ya dik…”

###

“Allaahu akbar Allaahu Akbar,,,,” suara azan shubuh terdengar begitu syahdu. Jumat Ramadhan itu menjadi hari duka buat Ifa…dan adik-adiknya. Tapi hal ini tidaklah membut Ifa terpuruk dalam kedukaan karena ia sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah titipan

Tinggalkan komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.